IEU-CEPA: Perjanjian Dagang Hampir Satu Dekade yang Akhirnya Hampir Selesai

Ketika Presiden Prabowo bertemu Presiden Macron di Istana Élysée Paris pada 28 Mei 2026, satu agenda yang paling substantif justru bukan soal bahasa Prancis di sekolah. Ini soal IEU-CEPA: perjanjian perdagangan komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa yang sudah dirundingkan hampir satu dekade dan kini berada di tahap akhir penyelesaian.

Macron mendorong percepatan. Prabowo menyambut. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ada keyakinan bahwa perjanjian ini benar-benar akan selesai pada 2026.

Lalu apa artinya buat Indonesia?

Perjalanan Panjang yang Hampir Selesai

Perundingan IEU-CEPA dimulai sejak 2016. Selama hampir sepuluh tahun, negosiasi berjalan lambat, terhambat oleh berbagai isu sensitif: sawit, ketentuan keberlanjutan lingkungan, standar produk, dan perbedaan standar ketenagakerjaan.

Per pertengahan 2025, lebih dari 90 persen draf teks sudah selesai. Beberapa isu teknis tersisa di tingkat negosiator senior dan working groups. Pada Januari 2026, kedua pihak mengumumkan “kesepakatan prinsip” yang membuka jalan bagi legal scrubbing, proses finalisasi bahasa hukum perjanjian sebelum penandatanganan.

Setelah ditandatangani, perjanjian ini masih memerlukan ratifikasi oleh parlemen masing-masing. Tapi sinyal politiknya kini lebih kuat dari sebelumnya.

Apa Isinya dan Siapa yang Diuntungkan?

IEU-CEPA mencakup liberalisasi tarif, akses jasa, investasi, pengadaan pemerintah, perlindungan hak kekayaan intelektual, dan ketentuan keberlanjutan. Yang paling banyak dibahas adalah soal tarif barang.

Dalam skenario yang disepakati, sekitar 95 hingga 98 persen pos tarif akan dihilangkan. Produk-produk ekspor unggulan Indonesia yang selama ini dikenai tarif di pasar Eropa, termasuk minyak sawit dan turunannya, tekstil, alas kaki, ban, dan produk olahan pertanian, akan mendapat akses masuk dengan tarif nol persen.

Bagi Indonesia, ini bisa menjadi pengungkit ekspor yang signifikan. Proyeksi pemerintah menyebut ekspor Indonesia ke UE bisa naik hingga dua kali setengah lipat setelah perjanjian berlaku. Nilai perdagangan bilateral saat ini berada di sekitar USD 30 miliar per tahun, dengan surplus di pihak Indonesia sebesar USD 4,5 miliar pada 2024.

Di sisi lain, perjanjian ini juga berarti pasar Indonesia terbuka lebih lebar untuk produk Eropa. Ini akan menguntungkan konsumen yang mendapat akses ke produk dengan harga lebih kompetitif, tapi juga menimbulkan tekanan bagi industri domestik yang harus bersaing.

Baca Juga : BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen: Apa Artinya untuk Kantong Anda?

Isu Sawit: Masih Menjadi Titik Sensitif

Minyak sawit adalah salah satu komoditas ekspor terbesar Indonesia ke Eropa, sekaligus salah satu sumber ketegangan terbesar dalam perundingan ini.

Uni Eropa sebelumnya menerapkan Regulasi Deforestasi Eropa (EUDR) yang mensyaratkan produk-produk tertentu, termasuk sawit, buktikan bahwa rantai pasoknya bebas dari deforestasi. Indonesia bersikeras bahwa regulasi ini diskriminatif dan memberatkan petani kecil.

Dalam kerangka IEU-CEPA yang disepakati, terdapat mekanisme dialog dan transisi untuk isu ini. Namun implementasinya akan tetap jadi tantangan, terutama bagi petani sawit independen yang rantai pasoknya lebih sulit ditelusuri.

Konteks yang Lebih Luas: Di Antara AS dan Eropa

IEU-CEPA tidak terjadi dalam ruang hampa. Indonesia saat ini juga sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat soal tarif, menyusul kebijakan proteksionis Trump yang memukul banyak negara eksportir. Rupiah yang melemah ke kisaran Rp 17.800 per dolar AS menambah urgensi untuk mendiversifikasi pasar ekspor dan menarik lebih banyak investasi jangka panjang.

Dalam konteks itu, IEU-CEPA punya nilai strategis yang melampaui angka-angka perdagangan. Ini soal posisi Indonesia di arsitektur perdagangan global: apakah kita hanya bergantung pada satu atau dua mitra besar, atau membangun jaringan yang lebih luas dan tahan terhadap guncangan geopolitik.

Macron juga menyebut kerja sama kecerdasan buatan (AI) sebagai agenda baru antara Indonesia dan Prancis, sesuatu yang belum masuk dalam teks IEU-CEPA awal tapi bisa menjadi kerangka tambahan.

Apakah Ini Akan Berdampak Positif?

IEU-CEPA adalah perjanjian yang jarang dibicarakan publik luas, tapi dampaknya akan dirasakan oleh banyak orang: eksportir yang ingin masuk pasar Eropa, petani sawit yang harus menyesuaikan standar, konsumen yang akan melihat harga produk Eropa berubah, dan industri domestik yang harus bersaing lebih keras.

Dialocal menilai bahwa momentum ini perlu dimanfaatkan dengan komunikasi publik yang lebih baik: siapa yang diuntungkan, siapa yang perlu penyesuaian, dan apa yang perlu disiapkan oleh pelaku usaha, terutama UMKM, sebelum perjanjian ini berlaku.

Baca Juga : Izin Usaha 2 Tahun vs 2 Minggu: Mengapa Birokrasi Indonesia Sulit Berubah?

Comments are closed