Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sesuatu yang mengundang banyak reaksi. Dalam pidato peresmian Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu 16 Mei 2026, ia berkata bahwa rakyat desa tidak perlu khawatir dengan pelemahan rupiah karena “tidak pakai dolar.” Pernyataan itu langsung viral. Kepala Bappenas Purbaya bahkan meluruskan bahwa komentar tersebut dimaksudkan sebagai hiburan agar masyarakat tidak panik.
Tapi persoalannya tidak sesederhana itu. Rupiah saat ini berada di kisaran Rp17.500 per dolar AS, level tertinggi sejak krisis moneter 1997-1998. Dan meskipun benar bahwa petani di desa tidak bertransaksi dalam dolar, pelemahan kurs dolar tetap bekerja lewat jalur-jalur tidak langsung yang sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Bagaimana Kurs Dolar Masuk ke Dapur Orang Desa
Kurs dolar tidak harus masuk ke kantong seseorang untuk dirasakan dampaknya. Mekanismenya bekerja lewat rantai harga.
Pertama, pupuk. Sebagian besar bahan baku pupuk seperti urea, fosfat, dan kalium diimpor atau diproduksi dengan komponen impor. Ketika rupiah melemah, biaya produksi pupuk naik. Subsidi pemerintah bisa menahan sebagian tekanan itu, tapi tidak selamanya cukup, dan tidak selalu tepat sasaran.
Kedua, bahan bakar. Harga minyak mentah dunia dipatok dalam dolar. Ketika kurs rupiah melemah, subsidi BBM yang dibayar pemerintah membengkak. Jika pemerintah tidak mampu menanggung beban itu, harga BBM naik, dan ongkos transportasi ikut naik. Ongkos transportasi yang naik berarti harga barang di pasar desa juga ikut naik.
Ketiga, pakan ternak dan obat-obatan hewan. Sebagian besar bahan aktif obat veteriner dan pakan ternak adalah produk impor atau berbahan baku impor. Peternak ayam kecil di desa sangat rentan terhadap kenaikan harga dua komponen ini.
Keempat, barang-barang konsumsi sehari-hari yang terlihat lokal pun banyak yang menggunakan komponen impor dalam proses produksinya. Sabun, sampo, minyak goreng berbahan sawit yang diekspor lalu diolah di luar negeri, dan sebagainya.
Jadi, dolar memang tidak masuk ke dompet orang desa. Tapi ia masuk lewat harga-harga yang mereka bayar.
Konteks Pernyataan Prabowo dan Respons Publik
Pernyataan Prabowo disampaikan di tengah tekanan publik yang kuat soal nilai tukar. Rupiah menyentuh Rp17.500-Rp17.600 per dolar di pertengahan Mei 2026, angka yang membuat banyak kalangan khawatir tentang stabilitas ekonomi.
Purbaya, Kepala Bappenas, kemudian menjelaskan bahwa Presiden bermaksud menenangkan masyarakat agar tidak panik. Gerindra juga memberikan klarifikasi serupa. Namun respon dari ekonom dan analis keuangan cukup seragam: pernyataan itu secara teknis tidak akurat, dan bisa menjadi masalah jika dipahami secara harfiah oleh pengambil kebijakan di level bawah.
Yang menarik dari kontroversi ini bukan soal apakah Prabowo salah bicara atau tidak. Yang menarik adalah ia mencerminkan ketegangan yang lebih besar: bagaimana pemerintah mengkomunikasikan kondisi ekonomi kepada publik, dan apakah narasi “tenang saja” cukup untuk merespons kekhawatiran yang riil.
Kompas mencatat bahwa retorika populis semacam ini memang sering efektif secara politik jangka pendek, tapi berisiko melemahkan kepercayaan publik jika realitas di lapangan terus berbeda dari narasi yang disampaikan.
Baca Juga : Ekonomi Tumbuh 5,61%, Tapi PHK Terus: Cara Membaca Angka yang Sering Disalahpahami
Kenapa Rupiah Bisa Melemah di Tengah Pertumbuhan 5,61 Persen
Ini paradoks yang penting untuk dipahami. BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2026 sebesar 5,61%, angka yang melampaui proyeksi banyak lembaga internasional. Namun rupiah justru melemah signifikan di periode yang sama.
Pertama, pertumbuhan 5,61% itu ditopang besar oleh belanja pemerintah yang naik sekitar 21,81% dan momentum Ramadan-Lebaran. Ini bukan pertumbuhan yang didorong oleh investasi produktif jangka panjang atau ekspor. Investor membaca pola ini dengan skeptis.
Kedua, kepercayaan investor sangat bergantung pada stabilitas kebijakan dan prospek jangka panjang. Di saat Indonesia berteriak “ekonomi tumbuh,” pasar melihat sektor manufaktur yang melemah dari kontribusi 30% ke 18% PDB dalam beberapa tahun terakhir, ketidakpastian kebijakan, dan tekanan global dari perang dagang yang belum reda.
Ketiga, ada faktor eksternal: penguatan dolar AS akibat kebijakan moneter Federal Reserve AS yang masih hawkish membuat hampir semua mata uang berkembang tertekan, bukan hanya rupiah.
Kombinasi faktor-faktor ini menjelaskan mengapa angka GDP yang bagus di atas kertas tidak cukup untuk menstabilkan mata uang. Rupiah mencerminkan kepercayaan, dan kepercayaan tidak bisa ditopang oleh satu angka kuartalan saja.
Apa yang Seharusnya Dilakukan
Dari perdebatan soal “orang desa dan dolar” ini, ada beberapa hal yang layak dijadikan catatan bersama.
Pertama, komunikasi ekonomi dari pemerintah perlu lebih cermat. Menenangkan publik adalah fungsi yang sah dari seorang pemimpin, tapi cara menenangkan yang terbaik adalah dengan penjelasan yang jujur dan berbasis fakta, bukan simplifikasi yang bisa menyesatkan.
Kedua, kebijakan perlindungan nilai tukar perlu lebih fokus pada sisi fundamental: mendorong ekspor bernilai tambah, menarik investasi asing langsung (bukan portofolio yang mudah kabur), dan memperkuat sektor manufaktur yang sudah lama melemah.
Ketiga, masyarakat perlu literasi ekonomi yang lebih baik tentang bagaimana kurs bekerja. Kurs bukan hanya angka di papan money changer. Ia adalah cermin dari kesehatan ekonomi dan kepercayaan pasar, yang ujung-ujungnya sangat mempengaruhi harga barang yang dibeli rakyat setiap hari, termasuk rakyat di desa.
Apakah ini Salah Bicara atau Bagaimana?
Dialocal berpandangan bahwa perdebatan soal pernyataan Prabowo ini seharusnya tidak berhenti di level “siapa yang salah bicara.” Yang lebih penting adalah: apakah kita, sebagai masyarakat, sudah memahami dengan cukup baik bagaimana kebijakan moneter bekerja dan bagaimana ia menyentuh kehidupan orang biasa?
Orang desa memang tidak memegang dolar. Tapi harga di warung mereka, ongkos ke sawah mereka, dan tagihan listrik mereka, semuanya bergerak bersama kurs yang mereka tidak pernah pegang itu.
Baca Juga : Rupiah Melemah tapi Ekonomi Tumbuh: Bukan Kontradiksi, Ini Penjelasannya